Sisa Perang di Velen: Lost Goods dan Out of the Frying Pan, Into the Fire

Ramalan kedua Old Sage di Benek tidak memberi Geralt tempat yang bisa ditandai pada peta. Ia meninggalkan Benek dengan rangkaian lambang yang belum terpecahkan, sementara pencarian Ciri tetap menariknya melintasi Velen. Begitu Roach melewati rumah-rumah beratap jerami dan kincir angin di bukit, Geralt kembali berhadapan dengan bahasa yang lebih akrab bagi seorang witcher.

Yang menunggu Geralt bukan lagi penglihatan tentang sesuatu yang mungkin terjadi, melainkan bukti dari sesuatu yang sudah terjadi. Ada desa tanpa penghuni, tubuh yang tak lagi dapat menjawab, tulisan yang berhenti di tengah ketakutan, dan barang yang kehilangan pemiliknya. Dua treasure hunt kecil yang ia temukan hari itu tidak mendekatkannya kepada Ciri, tetapi keduanya memperlihatkan bagaimana perang terus meninggalkan jejak setelah pasukan bergerak pergi.

Geralt menunggang Roach di antara rumah dan kincir angin Benek.
Dari Benek, Geralt kembali ke jalan dengan ramalan yang belum terpecahkan.

Dari Benek, Geralt mengambil jalur melalui The Descent menuju Mowshurst, lalu bergerak ke wilayah Grayrocks dan rawa di utara Ferry Station. Ia tidak sedang menyusun perjalanan untuk mencari pelajaran tentang perang, melainkan mengikuti jalan yang terbuka sementara tujuan besarnya tetap berada di tempat lain. Karena kedua temuan muncul di sela perjalanan, reruntuhan dan mayat itu terasa sebagai bagian dari lanskap Velen, bukan panggung yang sengaja menunggu seorang pahlawan datang.

Mowshurst yang Tidak Lagi Menunggu Siapa Pun

Mowshurst tampak seperti tempat yang sudah selesai dihancurkan. Atap-atapnya robek, papan berserakan di antara rumput tinggi, dan bangunan yang tersisa tak lagi membentuk sebuah permukiman. Tidak terdengar warga meminta pertolongan, juga tak ada seseorang yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Yang bergerak di antara reruntuhan hanyalah ghouls.

Bangunan Mowshurst yang rusak dengan bangkai ghoul di rerumputan.
Reruntuhan Mowshurst memperlihatkan desa yang kini dihuni para pemakan bangkai.

Geralt menyingkirkan para pemakan bangkai itu sebelum memeriksa desa. Kehadiran mereka menunjukkan akibat yang mudah dilihat, tetapi bukan awal tragedinya. Ghouls datang karena Mowshurst sudah dipenuhi kematian, bukan sebaliknya. Kekerasan manusia lebih dahulu mengosongkan desa itu dan meninggalkan ruang yang kemudian diambil alih necrophage.

Kerusakan Mowshurst tidak berhenti pada bekas pertempuran. Rumah, gudang, pagar, jalan setapak, dan tumpukan jerami masih menunjukkan susunan sebuah desa yang pernah berfungsi. Benda-benda itu tetap berada di tempatnya, tetapi hubungan antarmanusia yang memberi makna pada semuanya telah hilang. Yang tersisa adalah bentuk kehidupan sehari-hari tanpa orang yang menjalankannya.

Penyelidikan membawa Geralt ke sebuah ruang bawah tanah yang ditutup penghalang kayu. Ia menghancurkan barikade itu dengan Aard, lalu turun ke tempat yang pernah dipilih seseorang sebagai perlindungan terakhir. Di sana ada tong, botol, tempat tidur kasar, dan sesosok mayat. Persembunyian itu menjauhkan penghuninya dari pembantaian awal, tetapi tidak menyelamatkannya.

Geralt menemukan mayat seorang penyintas di dalam ruang bawah tanah.
Mayat di ruang bawah tanah menjadi sumber kesaksian terakhir Mowshurst.

Tidak ada nama yang melekat pada mayat itu, juga tak ada adegan perpisahan yang memberi wajah pada masa lalunya. Ia hanya terbaring di bawah cahaya obor, ditemani benda-benda yang menunjukkan betapa lama ruangan tersebut pernah menjadi satu-satunya dunianya. Geralt mengenalnya dengan cara yang lazim di Velen. Ia membaca keadaan di sekitar tubuh sebelum membaca kata-kata yang ditinggalkan pemiliknya.

Barikade sudah menjelaskan keputusan sang penyintas bahkan sebelum tulisannya dibuka. Ia memilih bertahan di ruang bawah tanah dan membatasi dunianya pada tempat yang bisa ia tutup. Perlindungan itu bekerja hanya dalam arti paling terbatas. Tentara tidak masuk, tetapi pintu yang menyelamatkannya juga memutus jalan menuju siapa pun yang mungkin masih dapat menolong.

Ketika Bendera Tidak Lagi Memberi Jawaban

Crumpled Notes bermula ketika tentara mendekati desa. Penulisnya tidak tahu apakah mereka berasal dari pihaknya sendiri atau dari pihak lawan. Ketidakpastian itu bukan sekadar kekurangan informasi politik. Bagi seseorang yang bersembunyi di balik pintu, asal pasukan kehilangan arti praktis ketika ancaman di luar sama-sama nyata.

Layar Crumpled Notes menampilkan kesaksian penyintas tentang serangan tentara.
Crumpled Notes merekam ketakutan penyintas yang tidak mengetahui pihak penyerang.

Sepanjang malam, penulis mendengar dan mengintip serangan yang menewaskan warga serta disertai kekerasan seksual. Catatan itu menyebut Antosh, yang bersembunyi di ladang dekat tumpukan jerami tempat barang-barangnya disembunyikan. Ia ditemukan, diseret keluar, lalu dipukuli. Warga lain mencoba berlindung di granary, tetapi tulisan tersebut tidak memberi kepastian bahwa tempat mana pun benar-benar aman.

Kekerasan itu cukup disampaikan sebagai fakta. Nilai kesaksiannya terletak pada sudut pandang yang kerap hilang dari kisah perang besar, bukan pada seberapa jauh penderitaan dapat diperinci. Penulis tidak mengetahui rencana para komandan, arah gerak pasukan, atau siapa yang kelak menguasai Velen. Ia hanya mengetahui bunyi tentara di jalan, celah pada dinding, pintu yang harus tetap tertutup, dan nama tetangga yang diseret keluar.

Ketidakjelasan identitas penyerang harus dipertahankan sebagaimana ditemukan Geralt. Tidak ada bukti yang memberinya dasar untuk menyebut pasukan itu Nilfgaardian, Redanian, atau sisa tentara lain. Catatan tersebut juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa semua pihak selalu sama. Ia hanya merekam satu pengalaman ketika identitas bendera tak lagi menjawab kebutuhan paling mendesak seorang warga, yaitu bertahan hidup sampai pagi.

Pintu yang dibarikade membuat penulis lolos dari tentara, tetapi ruang bawah tanah itu kemudian berubah menjadi perangkap. Setelah pasukan pergi, para penjarah mayat datang mengais apa pun yang masih tersisa pada tubuh orang-orang yang terbunuh. Penulis memanggil mereka dan meminta pertolongan, tetapi tidak mendapat jawaban. Menjelang akhir catatan, ia sudah mendengar ghouls dan memahami bahwa mereka akan mendatangi desa yang dipenuhi mayat.

Rangkaian itu membuat catatan semakin suram tanpa perlu dibebani penjelasan tambahan. Pasukan lebih dahulu menghancurkan kehidupan desa, lalu datang orang-orang yang melihat kematian sebagai kesempatan untuk mengambil barang, disusul makhluk yang tertarik pada bangkai. Sang penyintas mendengar setiap lapisan akibat itu dari balik pintu. Catatannya berakhir bukan ketika serangan usai, melainkan ketika harapan bahwa seseorang akan membukakan jalan keluar ikut habis.

Yang Datang Setelah Tentara

Ketika Geralt tiba di Mowshurst, ketakutan dalam catatan sudah menjadi kenyataan di sekelilingnya. Tentara tidak terlihat lagi dan para penjarah telah pergi. Penyintas itu telah mati di tempat persembunyiannya, sementara ghouls yang ia takutkan benar-benar berkeliaran di antara rumah-rumah kosong.

Di titik ini, Out of the Frying Pan, Into the Fire bekerja lebih kuat daripada sekadar mekanik pencarian peti. Geralt tidak menyaksikan penghancuran desa, kedatangan penjarah, atau kematian sang penyintas. Ia hanya bergerak melalui akibat yang ditinggalkan semuanya, lalu mengikuti catatan dan kunci menuju benda yang masih tersembunyi.

Catatan dan kunci dari ruang bawah tanah mengarahkan Geralt ke sebuah tumpukan jerami di luar persembunyian. Dengan Witcher Senses, ia menemukan peti yang disamarkan di sisinya. Hubungannya dengan Antosh terlihat dari petunjuk lokasi, tetapi kepemilikannya tidak perlu dipastikan. Tidak ada bukti cukup untuk menyebut peti itu milik Antosh maupun milik penulis catatan.

Geralt memeriksa peti tersembunyi di sisi tumpukan jerami Mowshurst.
Catatan dan kunci membawa Geralt ke peti tersembunyi di tumpukan jerami.

Ketika peti dibuka, Mag Deira cuirass menjadi temuan paling menonjol di antara isinya. Bagi Geralt, benda itu berguna, tetapi dalam kisah Mowshurst ia hanya mempertegas ironi yang sudah tampak di sekitar desa. Sebuah zirah berkualitas bertahan beberapa langkah dari tempat seseorang meninggal setelah terperangkap tanpa pertolongan. Temuan itu tidak menghadapkan Geralt pada keputusan moral karena tak ada pemilik yang dapat menerima barang itu kembali, dan pengambilannya tidak mengubah nasib siapa pun.

Treasure hunt itu selesai di dekat tumpukan jerami pada pertengahan sore. Tidak ada saksi hidup yang bisa ditemui Geralt, juga tidak ada pilihan moral yang mengubah nasib Mowshurst. Ia menutup penyelidikan setelah menghubungkan ruang bawah tanah, catatan, kunci, dan peti. Dari sana, Geralt meninggalkan reruntuhan dan melanjutkan perjalanan menuju hutan serta rawa di sekitar Ferry Station.

Seorang Prajurit dan Perang yang Berbeda

Di bawah pepohonan Grayrocks, tubuh berikutnya mengenakan seragam Nilfgaard. Prajurit itu terbaring sendirian di antara semak, jauh dari gambaran barisan penakluk yang biasanya menyertai lambang Great Sun. Tidak ada perwira, panji perang, atau musuh Redanian di dekatnya. Hanya mayat seorang prajurit rendahan dan tulisan yang menjelaskan mengapa ia berada di sana.

Geralt berdiri dekat mayat prajurit Nilfgaard di tengah semak.
Mayat prajurit Nilfgaard membuka kesaksian kedua tentang perang di Velen.

Nilfgaardian's Notes membuka kisah itu dengan janji perekrutan yang besar. Ia membayangkan akan membunuh Nordlings, membawa panji Great Sun sampai ke Dragon Mountains, dan membuat kaisar bangga. Janji tersebut menempatkannya di dalam mesin penaklukan, bukan di luar perang sebagai korban tanpa keterlibatan. Ia mendaftar dengan bayangan kemenangan dan kehormatan.

Layar Nilfgaardian's Notes memuat keluhan seorang prajurit di Velen.
Nilfgaardian's Notes memperlihatkan jarak antara janji kejayaan dan tugas lapangan.

Great Sun bukan hiasan dalam keluhan prajurit itu. Lambang kekaisaran tersebut merangkum kesetiaan, perluasan wilayah, dan kebanggaan yang dijanjikan ketika ia mendaftar. Dragon Mountains memberi janji itu tujuan yang sangat jauh. Mayat di semak Velen memperlihatkan betapa kecil arti cakrawala tersebut bagi seseorang yang kemudian diperintah mencari peti.

Velen segera memperkecil bayangan tersebut. Selama dua bulan, menurut tulisannya, ia bahkan belum melihat seorang Redanian. Alih-alih bertempur dalam perang yang dijanjikan, ia menerima serangkaian tugas yang dianggapnya semakin bodoh. Tugas terakhirnya adalah mencari sejumlah peti berisi perhiasan rampasan dari Nordlings yang jatuh dari gerobak ketika angkutan bergerak ke selatan.

Tidak melihat Redanian bukan berarti ia berada di wilayah yang damai. Ketiadaan musuh yang dibayangkan itu menunjukkan jarak antara gambaran perang saat perekrutan dan pekerjaan yang benar-benar diberikan di wilayah Velen yang belum sepenuhnya dikuasai Nilfgaard. Dalam pidato, musuhnya adalah pasukan Utara. Di lapangan, masalahnya berupa gerobak, peti yang hilang, rawa, dan amarah seorang sersan.

Catatan itu memperlihatkan perang sebagai institusi yang juga berjalan melalui pekerjaan kecil. Rampasan harus dipindahkan, barang yang hilang harus ditemukan, dan bawahan menanggung akibat ketika tugas gagal. Ancaman terhadap upah membuat muatan tersebut penting bagi prajurit itu, meskipun isinya berasal dari orang-orang Utara yang lebih dahulu kehilangan barang mereka. Kekecewaannya pada perang tidak menghapus perannya di dalam sistem tersebut.

Istilah barang hilang juga menutupi asal-usul muatan itu. Bagi kesatuan Nilfgaard, masalahnya adalah peti-peti yang jatuh dari jalur angkut. Bagi orang-orang yang semula memiliki perhiasan di dalamnya, kehilangan sudah terjadi saat benda-benda itu dijadikan rampasan. Muatan tersebut berpindah dari hasil penaklukan menjadi urusan logistik, lalu menjadi harta tanpa penjaga setelah para pembawanya mati atau pergi.

Ia juga bukan juru bicara bagi seluruh Nilfgaard. Tulisan itu hanya memberi satu suara dari tingkat paling bawah, seseorang yang datang dengan mitos kekaisaran lalu terjebak dalam rutinitas logistik. Kematiannya tidak mengubahnya menjadi filsuf antiperang. Ia tetap prajurit penyerbu yang kecewa karena perang nyata jauh lebih kotor, membosankan, dan sempit daripada perang yang dijual kepadanya.

Barang Rampasan di Tepi Rawa

Dari tubuh prajurit itu, arah pencarian berlanjut ke tepian air. Perahu-perahu kecil, papan dermaga, alang-alang, dan peti yang ditinggalkan membuat lokasi tersebut terasa seperti ujung jalur angkut yang gagal. Barang hilang itu tidak menunggu sendirian. Sekelompok drowners muncul dari rawa dan memaksa Geralt membersihkan jalan sebelum mendekati tempat penyimpanan.

Geralt menghadapi empat drowners dekat perahu di tepi rawa.
Drowners menempati tepian rawa tempat pencarian barang rampasan berakhir.

Drowners menutup rangkaian cerita prajurit tersebut, tetapi bukti yang ada tidak memastikan bahwa merekalah yang membunuhnya. Mereka adalah bahaya yang kini menguasai area tempat pasukan pernah mengurus barang rampasan. Seperti ghouls di Mowshurst, monster ini hadir di ruang yang lebih dahulu dibentuk oleh tindakan manusia. Perang membawa gerobak dan prajurit ke rawa, lalu Velen mengambil alih jalur yang mereka tinggalkan.

Setelah pertempuran, Geralt membuka peti dan menyelesaikan Lost Goods. Di samping perlengkapan biasa, enam florens dan sebuah Spikeroog aketon menjadi isi yang paling layak dicatat. Temuan itu terasa kecil dibanding panji Great Sun dan Dragon Mountains dalam bayangan sang prajurit. Kontras antara propaganda dan kenyataan kini tersisa dalam barang-barang di tanah berlumpur.

Peti itu juga mengubah arti harta menurut siapa yang memandangnya. Bagi pasukan Nilfgaard, isinya adalah rampasan yang harus kembali ke alur logistik. Bagi prajurit yang diperintah mencarinya, peti tersebut berkaitan dengan disiplin dan upah. Bagi Geralt, ia menjadi ujung penyelidikan yang bermula dari tubuh tanpa suara.

Perbedaannya dengan Mowshurst tetap nyata. Peti dekat tumpukan jerami muncul dari usaha seseorang menyembunyikan barang ketika desa diserang. Peti di rawa muncul dari usaha pasukan memindahkan hasil rampasan. Keduanya akhirnya terbuka di tangan Geralt, tetapi jalan yang membawa masing-masing benda ke sana berasal dari posisi yang berlawanan dalam perang.

Dua Suara yang Tertinggal

Setelah kedua treasure hunt selesai, Geralt membawa dua kesaksian yang tidak menceritakan perang dari posisi yang sama. Penulis Crumpled Notes menyaksikan pasukan menyerang desanya dan memporak-porandakan kehidupan warganya. Penulis Nilfgaardian's Notes memilih bergabung dengan pasukan penakluk, lalu menemukan bahwa kejayaan yang dijanjikan berubah menjadi perintah mencari barang rampasan. Menyamakan keduanya akan menghapus perbedaan penting antara warga yang diserang dan prajurit yang menjadi bagian dari mesin perang.

Cara mereka menulis mempertahankan perbedaan itu. Suara dari Mowshurst bergerak dari bunyi tentara yang mendekat menuju rangkaian kejadian yang semakin menutup kemungkinan untuk selamat. Suara prajurit Nilfgaard bermula dari ingatan tentang janji para perekrut, lalu berubah menjadi keluhan tajam tentang Velen dan tugasnya. Yang satu merekam serangan dari ruang sempit, sedangkan yang lain mencatat bagaimana kenyataan mengecilkan kebanggaan yang pernah ia yakini.

Namun kedua catatan itu bertemu dalam satu keadaan. Geralt tiba setelah penulisnya mati. Tidak ada percakapan yang dapat menguji ingatan mereka, tak ada orang yang menunggu hasil penyelidikannya, dan tak ada upacara besar yang memberi arti pada penemuan itu. Tubuh, tulisan, reruntuhan, monster, dan barang menjadi satu-satunya cara untuk menyusun kembali apa yang terjadi.

Karena Geralt datang setelah kedua penulis itu mati, The Witcher 3 membiarkan lingkungan meneruskan kisah mereka tanpa cutscene panjang. Barikade menjelaskan ketakutan sebelum catatan dibaca, sedangkan ghouls menggenapi ketakutan terakhir sang penyintas tanpa dialog tambahan. Seragam Nilfgaard, rawa, drowners, dan peti yang terdampar mempertemukan ambisi kekaisaran dengan pekerjaan sehari-hari yang menopangnya.

Karena itu, peti dalam kedua treasure hunt ini tidak berdiri sebagai hadiah yang terpisah dari cerita. Peti dekat tumpukan jerami adalah sisa kehidupan yang dirusak di Mowshurst. Peti di rawa adalah sisa jaringan rampasan yang gagal mencapai tujuannya. Geralt dapat mengambil isinya, tetapi nilai terbesar bagi pembaca terletak pada jejak manusia yang membawanya ke sana.

Geralt berdiri di dermaga rawa setelah pertempuran melawan drowners.
Senja menemukan Geralt masih di lokasi Lost Goods setelah peti terakhir terbuka.

Hari itu berakhir di tambatan berlumpur di tepi air setelah drowners tumbang dan peti terakhir terbuka. Geralt belum memperoleh jawaban baru tentang Ciri, sementara ramalan Old Sage di Benek tetap belum terpecahkan. Ia masih berada di lokasi Lost Goods, di antara perahu dan barang yang ditinggalkan, sebelum perjalanannya berlanjut di jalan-jalan Velen.

Dari dua tempat itu, Geralt tidak membawa kisah kemenangan, melainkan dua cara perang meninggalkan ingatan. Seorang warga tanpa nama bertahan cukup lama untuk menulis kehancuran desanya. Seorang prajurit mencatat runtuhnya bayangan tentang kejayaan. Keduanya tak lagi dapat berbicara ketika Geralt datang, tetapi Velen masih menyimpan suara mereka dalam segala sesuatu yang belum sempat hilang.

Posting Komentar

Lebih lama Lebih baru