Setelah menelusuri harta perang yang tertinggal di sekitar White Orchard, Geralt akhirnya kembali menuju desa. Tidak ada lagi kontrak atau jejak lain yang menahannya di ladang, hutan, maupun reruntuhan sekitar kincir angin. Royal Griffin telah mati, Peter Saar Gwynleve telah memberinya arah yang dibutuhkan, dan kabar terakhir mengenai Yennefer menunjuk ke Vizima.
Yang tersisa seharusnya sederhana. Vesemir masih menunggu di tavern, tempat keduanya memulai pencarian mereka di White Orchard. Geralt hanya perlu menemuinya, mempersiapkan keberangkatan, lalu meninggalkan wilayah yang selama beberapa hari terakhir memperlihatkan hampir setiap bentuk luka yang dapat ditinggalkan perang.
Namun ketika Geralt kembali, tavern itu tidak lagi terasa seperti tempat yang sama. Ketegangan terhadap Nilfgaard yang sebelumnya hanya terdengar dalam percakapan kini terasa lebih dekat dan lebih pribadi. Kekalahan Temeria, kematian warga, ketakutan terhadap penguasa baru, dan kecurigaan terhadap mereka yang dianggap terlalu mudah menerima pendudukan belum menghilang hanya karena pertempuran telah selesai.
The Incident at White Orchard dimulai justru ketika Geralt berniat pergi. Setelah berhari-hari melihat akibat perang melalui monster, korban, gerilyawan, witcher yang mati, serta harta yang kehilangan pemiliknya, ia kembali ke tempat yang pertama kali memberinya petunjuk tentang Yennefer. Kali ini, persoalan yang menunggunya tidak tersembunyi di rawa, reruntuhan, atau crypt. Ia berada di antara orang-orang yang masih hidup.
![]() |
| Tavern yang dahulu membuka pencarian Yennefer kini menjadi tempat Geralt dan Vesemir menutup perjalanan mereka di White Orchard. |
Kembali ke Tavern untuk Meninggalkan White Orchard
Geralt menemukan Vesemir di tempat yang sama seperti pada awal perjalanan mereka. Namun suasana tavern telah berubah. Ketika keduanya pertama kali mencari kabar tentang Yennefer di White Orchard, tempat itu masih menjadi ruang pertemuan bagi penduduk, pelancong, dan orang-orang yang sedang mencoba memahami keadaan setelah pertempuran. Ketegangan terhadap Nilfgaard dan witcher sudah terasa, tetapi belum berubah menjadi sesuatu yang mematikan.
Kali ini Geralt datang membawa jawaban. Yennefer telah pergi menuju Vizima. Ia berniat menyampaikan kabar itu kepada Vesemir dan bersiap melanjutkan perjalanan, tetapi witcher tua tersebut melihat sesuatu yang lebih mendesak. Sekelompok lelaki sedang minum di meja lain. Menurut Vesemir, mereka tidak sekadar menikmati minuman. Masalah sedang tumbuh di dalam ruangan.
Geralt dapat menanyakan siapa mereka atau langsung mengatakan bahwa sudah waktunya pergi. Pilihan kalimat tersebut tidak mengubah rangkaian berikutnya. Vesemir tetap berniat membeli bekal, dan keduanya tetap berusaha menjauh dari urusan orang lain. Percakapan ini sekaligus menjadi titik tanpa jalan kembali bagi fase White Orchard. Begitu Geralt berbicara kepada Vesemir, rangkaian pertengkaran, reuni, dan perjalanan menuju Vizima bergerak hampir tanpa jeda.
Batas itu memberi makna tambahan pada semua urusan yang telah diselesaikan Geralt sebelumnya. Setelah keputusan untuk berangkat diambil, tidak ada lagi jeda untuk kembali ke ladang, menolong orang lain, atau membereskan jejak yang belum selesai. White Orchard tidak berakhir melalui ucapan perpisahan. Ia berakhir ketika pintu tavern tertutup di belakang dua witcher yang baru saja diusir.
Para "Patriot" yang Sedang Mencari Musuh
Vesemir menyebut para peminum itu "patriot". Mereka sedang menghabiskan putaran ketujuh untuk Temeria, sementara tangan mereka mulai gatal ingin memukul seseorang. Geralt memperhatikan bahwa tidak ada prajurit Nilfgaard di dalam tavern. Jawaban Vesemir sederhana: jika musuh yang mereka inginkan tidak tersedia, mereka akan menemukan musuh lain.
Ucapan itu menjelaskan konflik bahkan sebelum satu senjata pun dihunus. Para lelaki tersebut bukan rombongan perampok yang datang dari luar desa. Mereka adalah warga lokal yang masih mengikat identitasnya pada kerajaan yang baru saja kalah. Battle of White Orchard pada musim semi 1272 berakhir dengan kemenangan Nilfgaard. Lambang kekuasaan berganti, garnisun didirikan, dan wilayah Temeria di sekitar desa jatuh di bawah kendali kekaisaran. Bagi orang-orang yang hidup di sana, kekalahan itu belum sempat berubah menjadi sejarah. Ia masih berupa mayat yang belum seluruhnya dikubur, keluarga yang kehilangan anggota, dan tentara asing yang kini berpatroli di jalan-jalan mereka.
Alkohol membuat amarah lebih mudah meledak, tetapi bukan sumber tunggalnya. Mereka tidak lagi mempunyai kemampuan untuk melawan pihak yang benar-benar menguasai wilayah tersebut. Menyerang patroli Nilfgaard berarti menghadapi tentara terlatih sekaligus risiko hukuman bagi desa. Jauh lebih mudah mengarahkan kemarahan kepada Elsa, perempuan yang mengelola tavern, atau kepada dua witcher yang tidak memiliki kepentingan dalam pertentangan antara Temeria dan Nilfgaard.
Setelah senjata dihunus, instruksi quest menyebut mereka sebagai bandits karena secara mekanis mereka telah menjadi lawan yang harus dikalahkan. Dialog sebelum pertarungan memperlihatkan identitas yang jauh lebih rumit. Mereka menyebut diri patriot, membawa luka akibat kekalahan, lalu memilih sasaran yang sama sekali tidak bertanggung jawab atas jatuhnya Temeria. Latar belakang tersebut tidak menghapus kesalahan mereka ketika mulai mengancam orang lain. Ia hanya menjelaskan bagaimana perang dapat mengubah rasa kehilangan menjadi kebutuhan untuk menemukan musuh yang masih dapat dijangkau.
Mengapa Elsa Menurunkan Bunga Lili Temeria
Pemicu pertengkaran bukan pidato besar, melainkan ruang kosong di dinding. Saudari Annie, seorang perempuan yang tidak pernah disebutkan namanya, menanyakan apa yang terjadi pada bunga-bunga lili. Elsa menjawab bahwa ia telah menurunkannya. Bagi perempuan itu, jawaban tersebut terdengar seperti pengakuan: apakah lili Temeria disingkirkan agar lambang matahari Nilfgaard dapat digantung sebagai gantinya?
Bunga lili bukan hiasan netral. Lambang Temeria menggunakan lili perak pada bidang hitam, sehingga memajangnya di wilayah pendudukan merupakan pernyataan identitas yang mudah dibaca. Matahari dalam tuduhan tersebut merujuk pada Great Sun, simbol kekaisaran sekaligus pusat kultus negara Nilfgaard. Dalam satu dinding tavern, kedua lambang mewakili dua kekuasaan yang tidak lagi berdiri sejajar: satu baru saja kehilangan wilayahnya, sementara yang lain hadir melalui zirah, patroli, dan perintah militer.
Elsa tidak mengatakan bahwa ia menyukai Nilfgaard. Ia juga tidak menawarkan diri untuk mengganti lili dengan matahari emas. Alasannya jauh lebih praktis: ia tidak dapat memajang warna Temeria karena tavern dapat dibakar. Bagi pemilik tempat yang sekaligus menjadi sumber penghidupan, menurunkan lambang adalah cara untuk mengurangi risiko. Ia hanya berusaha menjaga bangunan tetap berdiri dan orang-orang di dalamnya tetap hidup.
Di bawah pendudukan, tindakan semacam itu mudah kehilangan nuansa. Kesetiaan dinilai melalui simbol yang terlihat, sementara rasa takut tidak meninggalkan tanda apa pun. Saudari Annie hanya melihat lili yang menghilang. Ia tidak melihat ancaman yang harus diperhitungkan Elsa setiap kali prajurit memasuki tavern. Keputusan untuk bertahan hidup kemudian diterjemahkan menjadi keberpihakan politik.
Great Sun juga membuat perdebatan ini tampak seperti pertentangan agama, tetapi kesimpulan yang terlalu luas perlu dihindari. Nilfgaard memang memiliki kultus Great Sun sebagai agama negara, sementara saudari Annie mengatakan bahwa para eksekutor menganggap keyakinan saudarinya sebagai takhayul. Namun pernyataan tersebut tetap merupakan kesaksian mengenai satu kematian; ia tidak membuktikan bahwa setiap kepercayaan lain dilarang secara seragam di seluruh kekaisaran. Yang dapat dipastikan hanyalah bahwa saudari Annie mengaitkan eksekusi itu dengan penolakan Nilfgaard terhadap "takhayul".
![]() |
| Dinding yang kosong memperlihatkan bagaimana simbol politik dapat berubah menjadi ancaman bagi warga di wilayah pendudukan. |
Annie dan Duka yang Berubah Menjadi Kekerasan
Elsa mengetahui bahwa lawan bicaranya sedang berduka. Ia bahkan memilih membiarkan hinaan pertama berlalu karena memahami bahwa kehilangan sedang menggerogoti perempuan tersebut. Namun jawaban Elsa tidak menenangkan keadaan. Saudari Annie justru mengungkap alasan mengapa hilangnya lili terasa begitu menyakitkan baginya.
Menurut kesaksiannya, tentara Nilfgaard menyeret Annie keluar dari sebuah biara seperti seekor anjing, lalu menggantungnya. Mereka dikatakan menolak "takhayul" dan tidak takut terhadap murka para dewa. Game tidak menghadirkan saksi lain, dokumen eksekusi, ataupun penjelasan dari pihak Nilfgaard. Karena itu, kematian Annie diketahui melalui ingatan seorang saudari yang sedang mabuk dan marah. Kesaksiannya tidak harus dianggap keliru, tetapi sudut pandangnya tetap perlu dipertahankan sebagai kesaksian pribadi.
Hubungan Annie dengan Elsa membuat tuduhan tersebut jauh lebih dalam daripada sekadar perdebatan mengenai bendera. Annie pernah membantu ketika Elsa melahirkan putranya. Menurut saudarinya, tali pusar membahayakan bayi itu dan pertolongan Annie menyelamatkan nyawanya. Di mata perempuan tersebut, keluarga Elsa berutang kehidupan kepada Annie. Ketika lili Temeria menghilang setelah Annie dieksekusi, keputusan Elsa tidak lagi terlihat sebagai rasa takut. Ia terlihat seperti penolakan terhadap seseorang yang pernah menyelamatkan keluarganya.
Di sinilah kedua pengalaman itu tidak dapat diringkas menjadi penilaian sederhana. Elsa benar-benar mempunyai alasan untuk takut tavernnya dibakar. Saudari Annie benar-benar membawa kehilangan yang brutal serta ingatan tentang pertolongan yang pernah diberikan saudarinya. Keduanya hidup di bawah kekuasaan yang tidak mereka pilih. Namun rasa sakit yang memiliki alasan nyata tetap tidak memberi hak untuk melukai orang lain.
Saudari Annie menarik Elsa, menghantamkan kepalanya ke meja, dan membuat wajahnya berdarah. Kekerasan tersebut tidak lagi diarahkan kepada penguasa pendudukan, melainkan kepada sesama warga yang juga sedang berusaha bertahan. Nilfgaard bahkan tidak perlu hadir di dalam ruangan agar kekuasaannya terasa. Cukup dengan menciptakan keadaan ketika setiap keputusan warga dapat ditafsirkan sebagai bukti pengkhianatan.
White Orchard sebelumnya telah memperlihatkan kemungkinan yang berbeda ketika keluarga seorang prajurit Temeria menerima bahwa musuh Nilfgaard pernah menyelamatkan hidupnya. Pertemuan di tavern menunjukkan arah sebaliknya. Duka tidak membuka jalan menuju pengertian, melainkan mempersempit dunia sampai hanya tersisa orang yang dianggap setia dan orang yang dianggap telah menjual diri.
![]() |
| Bagi saudari Annie, pertolongan saat kelahiran putra Elsa mengubah keputusan sang pemilik tavern menjadi pengkhianatan yang sangat pribadi. |
Saat Vesemir Tidak Lagi Bisa Bersikap Netral
Beberapa saat sebelumnya, Vesemir meminta Geralt menjauh dari masalah dengan berkata "kali ini saja". Kalimat tersebut penting karena memperlihatkan bahwa ia sudah memahami harga dari keterlibatan. Dua witcher bersenjata di tengah sekelompok peminum yang marah hampir tidak mungkin menghasilkan perdamaian. Pergi sebelum pertengkaran menyeret mereka ke dalamnya tampak sebagai pilihan paling aman.
Namun batas netralitas muncul ketika Elsa diserang tepat di hadapannya. Vesemir tidak ikut campur karena mendukung Nilfgaard, menolak Temeria, ataupun ingin menentukan simbol apa yang boleh digantung di tavern. Ia bergerak karena seorang perempuan sedang dipukuli dan tidak mampu melepaskan diri. Pada titik tersebut, diam pun memiliki akibat: Elsa akan terus menerima kekerasan.
Entri jurnal The Incident at White Orchard dibuka dengan gagasan bahwa witcher seharusnya netral dan menghindari urusan orang lain, lalu segera mengakui bahwa terkadang sulit untuk tidak peduli. Rumusan itu lebih tepat dibaca sebagai dilema daripada aturan mutlak yang tidak pernah boleh dilanggar. Witcher memang berusaha menjauh dari perang kerajaan dan pertikaian politik, tetapi kehidupan di jalan terus menempatkan kekerasan langsung di depan mereka.
Vesemir berhasil melepaskan Elsa dari tangan penyerangnya, tetapi tindakan tersebut sekaligus mengubah posisi kedua witcher. Mereka tidak lagi menjadi dua pelancong yang sedang bersiap pergi. Di mata para lelaki lokal, mereka telah memilih pihak. Alasan untuk menghentikan pemukulan tidak lagi berarti bagi orang-orang yang sejak awal hanya membutuhkan seorang musuh.
![]() |
| Netralitas berhenti menjadi pilihan ketika Vesemir menyaksikan Elsa dipukuli tepat di hadapannya. |
Pertumpahan Darah di Dalam Tavern
Setelah saudari Annie menjauh, para lelaki yang sejak awal diperhatikan Vesemir berdiri menghalangi jalan. Vesemir memperlihatkan medali witcher dan meminta mereka mundur. Isyarat itu dimaksudkan sebagai peringatan. Sebaliknya, identitas witcher justru memberi mereka bahan baru untuk menuduh.
Mereka mengulang rumor bahwa witcher mencuri anak-anak dan menanyakan apa yang dijanjikan kaisar kepada para "freak". Salah satu dari mereka membandingkannya dengan janji tanah yang pernah diberikan kepada para elf. Tuduhan itu mencampurkan ketakutan lama terhadap witcher dengan kecurigaan baru terhadap Nilfgaard.
Rumor tentang penculikan anak mempunyai akar yang telah terdistorsi. Law of Surprise dapat mengikat seorang anak sebagai imbalan yang tidak terduga, dan sekolah-sekolah witcher memang membesarkan calon mereka sejak usia muda. Namun kedua fakta itu tidak membuktikan bahwa witcher berkeliaran menculik anak dari rumah mereka. Di White Orchard sendiri, tuduhan serupa sebelumnya menelan Kolgrim, witcher Viper School yang tidak pernah pulang setelah dituduh menculik seorang anak.
Geralt dan Vesemir tidak memperoleh kesempatan untuk menjelaskan sejarah tersebut. Vesemir menyuruh para lelaki itu pergi. Mereka menolak, lalu menghunus senjata. Begitu bilah keluar, sang witcher tua menyadari bahwa mereka tidak akan mundur. Konflik yang sebelumnya ingin ia hindari kini hanya memiliki satu akhir yang disediakan game.
Bagian ini perlu dibedakan dari bentrokan pada kunjungan pertama Geralt. Pertarungan sebelumnya terjadi di luar tavern dan berbentuk baku hantam nonletal. Pertarungan terakhir berlangsung di dalam tavern. Para penyerang membawa senjata, Geralt dan Vesemir menarik pedang baja yang digunakan untuk menghadapi manusia, dan tidak tersedia jalur dialog damai yang dapat mengubah hasilnya.
Jumlah lawan memberi mereka keyakinan, tetapi keunggulan tersebut hampir tidak berarti di hadapan dua witcher. Pertarungan berlangsung cepat dan berakhir dengan tubuh-tubuh tergeletak di lantai. Sebuah kepala terpenggal dan jatuh di dekat saudari Annie. Dalam urutan kejadian, Geralt dan Vesemir bertindak untuk membela diri karena para lelaki itu menolak pergi dan lebih dahulu mengangkat senjata. Namun kecepatan serta ketuntasannya membuat adegan ini jauh dari gambaran kepahlawanan yang bersih.
Istilah "pertumpahan darah" lebih tepat daripada "perkelahian" karena akibatnya tidak dapat dipulihkan. Tidak ada lawan yang hanya kehilangan kesadaran, tidak ada permintaan maaf setelah emosi mereda, dan tidak ada pilihan pemain yang mengubah siapa yang keluar hidup-hidup. White Orchard menutup konflik manusianya dengan cara yang sama seperti perang di luar desa: pihak yang memiliki kemampuan membunuh lebih besar pada akhirnya menentukan kapan kekerasan berhenti.
![]() |
| Pedang baja mengubah pertengkaran warga menjadi pertumpahan darah yang tidak dapat dibatalkan. |
Mengapa Elsa Mengusir Orang yang Baru Menyelamatkannya
Ketika pertarungan selesai, Geralt mencoba menenangkan orang-orang yang masih hidup. Ia mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir. Saudari Annie justru mundur dan meminta agar ia tidak mendekat. Seorang lelaki menatap wajah Geralt dengan ngeri dan memohon perlindungan para dewa. Elsa, masih terluka dan bersembunyi di balik meja, menyuruh Geralt serta Vesemir pergi dan tidak pernah kembali.
Reaksi tersebut mudah disalahartikan sebagai sikap tidak tahu berterima kasih. Geralt dan Vesemir memang menghentikan serangan yang ditujukan kepada Elsa. Tanpa intervensi mereka, perempuan itu mungkin mengalami luka yang jauh lebih parah. Namun dari sudut pandangnya, penyelamatan tersebut langsung diikuti oleh kematian brutal beberapa orang di ruang yang selama ini menjadi tempat kerja, sumber penghidupan, dan salah satu tempat yang masih memberinya rasa aman.
Elsa tidak menyaksikan pertarungan seperti pemain yang mengendalikan Geralt. Ia melihat dua witcher membunuh sekelompok warga dalam hitungan saat, mendengar furnitur pecah, dan mendapati lantai tavern dipenuhi darah. Ia baru saja mengalami serangan pada kepalanya dan belum memiliki jarak untuk memisahkan orang yang menyelamatkannya dari kekerasan yang digunakan untuk menyelamatkannya. Rasa aman yang berusaha ia pertahankan dengan menurunkan lili Temeria hilang tepat di depan matanya.
Dua kebenaran dapat berdiri bersamaan. Geralt dan Vesemir tidak memulai konfrontasi bersenjata, dan mereka bertindak setelah Elsa diserang. Namun Elsa tetap mempunyai alasan untuk takut terhadap cara mereka mengakhiri ancaman. Entri jurnal quest ini menggambarkan reaksinya sebagai ketakutan terhadap pertumpahan darah, bukan sekadar penolakan terhadap bantuan.
Konsekuensi langsungnya tidak bercabang. Para penyerang mati, Elsa mengusir kedua witcher, dan Geralt meninggalkan White Orchard. Secara mekanis, percakapan dengan Vesemir juga menutup kesempatan untuk menyelesaikan sejumlah urusan sekunder yang masih terbuka. Karena Geralt telah menuntaskan seluruh urusan White Orchard sebelum kembali ke tavern, keberangkatan ini tidak meninggalkan quest yang terbengkalai. Namun sifatnya sebagai point of no return menegaskan bahwa fase perjalanan Geralt di White Orchard telah berakhir. Wilayah itu masih dapat dikunjungi kembali, tetapi rangkaian prolog dan sejumlah urusan yang bergantung pada keberangkatan tersebut tidak lagi dapat diputar kembali.
![]() |
| Bagi Elsa, selamat tidak berarti kembali merasa aman; penyelamatan itu meninggalkan tavernnya sebagai ruang penuh darah. |
Yennefer Kembali Bersama Nilfgaard
Di luar tavern, Geralt dan Vesemir langsung berhadapan dengan rombongan prajurit Nilfgaard. Geralt bahkan mulai menjelaskan bahwa mereka tidak memulai pertarungan sebelum mengetahui alasan pasukan tersebut menunggu. Lalu suara yang selama ini ia cari memotong pembelaannya. Yennefer berdiri di antara para pengawal dan menyambutnya dengan ejekan akrab bahwa Geralt tidak berubah sedikit pun.
Pertemuan itu bukan kebetulan. Yennefer telah menerima laporan mengenai seorang witcher yang muncul di White Orchard. Ia mengetahui Geralt sedang mencarinya dan memutuskan datang sendiri karena kesabaran memang bukan sifat yang ia miliki. Karena itu, pencarian yang dimulai dari surat, desa Willoughby yang terbakar, jejak di medan perang, dan kabar dari garnisun berakhir secara terbalik. Bukan Geralt yang akhirnya berhasil menyusul Yennefer, melainkan Yennefer yang kembali untuk menjemputnya.
Setelah dua tahun tidak bertemu, keduanya hanya mendapatkan beberapa kalimat pribadi. Yennefer mengakui bahwa ia senang melihat Geralt dan mungkin akan memeluknya jika tubuh sang witcher tidak berlumuran darah. Kalimat tersebut menghubungkan reuni mereka dengan akibat di dalam tavern. Tujuan yang selama ini mendorong perjalanan Geralt akhirnya tercapai, tetapi ia mencapainya dalam keadaan yang tidak memungkinkan keduanya benar-benar menikmati pertemuan tersebut.
Kehadiran para pengawal Nilfgaard membuat suasana segera berubah menjadi lebih formal. Vesemir menyambut Yennefer, tetapi langsung meminta penjelasan. Yennefer menundanya sampai mereka tiba di Vizima dan meminta kuda segera disiapkan. Ada seseorang yang sedang menunggu Geralt, katanya, dan orang itu tidak suka dibuat menunggu.
Orang tersebut adalah Kaisar Emhyr var Emreis, yang diperkenalkan Yennefer melalui julukan panjangnya, White Flame Dancing on the Graves of His Foes. Dalam Elder Speech, gelar itu dikenal sebagai Deithwen Addan yn Carn aep Morvudd. Julukan tersebut bukan pujian kosong. Riwayat Emhyr mengaitkannya dengan cara sang kaisar memperlakukan musuh politik yang telah dikalahkannya; bahkan batu nisan mereka dikisahkan digunakan untuk melapisi lantai sebuah ruang dansa. Gelar itu menyampaikan reputasi seorang penguasa yang tidak puas hanya dengan menang. Kemenangan harus diubah menjadi pertunjukan kekuasaan.
Yennefer mengatakan bahwa Emhyr ingin membuat sebuah tawaran. Ketika Vesemir bertanya apakah tawaran itu termasuk jenis yang tidak dapat ditolak, Yennefer menjawab bahwa ia sendiri dapat menolak, tetapi memilih tidak melakukannya. Jawaban tersebut memberi petunjuk bahwa ada alasan besar di balik kerja samanya dengan kekaisaran, tanpa membuka alasan itu di tengah jalan.
Karena itu, kembalinya Yennefer bukan jeda romantis setelah konflik. Ia datang membawa penyelesaian sekaligus perintah baru. Geralt akhirnya menemukan orang yang ia cari, tetapi bahkan sebelum darah di pakaiannya mengering, pencarian pribadi tersebut telah ditarik ke pusat kekuasaan Nilfgaard. Vizima tidak lagi sekadar kota tempat Yennefer terakhir terlihat. Ia menjadi tempat sang kaisar menunggu jawaban.
![]() |
| Pencarian Geralt berakhir secara terbalik, Yennefer datang mencarinya, tetapi ia juga membawa panggilan langsung dari Emhyr var Emreis. |
Perpisahan dengan Vesemir dan Jalan Menuju Vizima
Vesemir tidak ikut bersama mereka. Ia menduga undangan sang kaisar tidak menyebut namanya dan masih mempunyai urusan yang harus diselesaikan di Kaer Morhen. Keputusannya bukan penolakan dramatis terhadap Geralt ataupun Yennefer. Ia hanya memahami bahwa panggilan tersebut ditujukan secara khusus kepada muridnya dan bahwa jalannya kini mengarah ke tempat lain.
Perpisahan mereka singkat. Geralt berterima kasih atas bantuan Vesemir, lalu keduanya menggenggam lengan sebelum berpisah. Momen kecil tersebut menutup fase pencarian yang membawa Geralt dan Vesemir menuju Willoughby, lalu berbelok ke White Orchard setelah perang menghancurkan tempat pertemuan yang direncanakan. Selama bagian awal perjalanan, Vesemir menjadi rekan yang membaca keadaan, membantu dalam kontrak griffin, dan mengingatkan Geralt ketika keterlibatan dalam urusan manusia mulai menjadi berbahaya. Setelah tavern, posisi pendamping itu beralih kepada Yennefer.
Peralihan tersebut juga mengubah jenis bahaya yang mengelilingi Geralt. Bersama Vesemir, ia bergerak melalui akibat perang dan persoalan warga. Bersama Yennefer, ia menuju istana pihak yang memenangkan perang di White Orchard. Geralt belum mengetahui mengapa Emhyr memanggilnya, tetapi pilihan untuk menunda hampir tidak tersedia ketika seorang kaisar, seorang penyihir, dan rombongan bersenjata telah datang untuk menjemputnya.
Sebelum berangkat, Yennefer menanyakan apakah kuda Geralt cukup cepat. Ia ingin berada di balik tembok kota yang tebal secepat mungkin. Kalimat tersebut membuat urgensinya terasa lebih besar daripada sekadar tata krama istana, tetapi percakapan itu belum memastikan bahwa ia mengetahui serangan apa yang akan datang. Yang jelas, Yennefer menganggap jalan terbuka tidak aman. Beberapa saat kemudian, kekhawatiran tersebut terbukti.
![]() |
| Jalan mereka berpisah, Vesemir kembali ke Kaer Morhen, sedangkan Geralt memasuki urusan istana Nilfgaard bersama Yennefer. |
Ketika Wild Hunt Keluar dari Mimpi
Dalam perjalanan, Geralt mulai menceritakan mimpi yang baru-baru ini ia alami tentang Yennefer. Percakapan tersebut terputus sebelum ia sempat menjelaskan bagian terburuknya. Salju turun di tengah perjalanan musim semi, udara berubah, dan para penunggang Wild Hunt muncul dari pepohonan bersama Hounds of the Wild Hunt.
Adegan itu mengingatkan kembali pada mimpi Geralt tentang Kaer Morhen yang membuka perjalanannya dalam The Witcher 3. Saat itu Wild Hunt hadir di dalam mimpi sebagai serbuan yang memecah ketenangan dan membuat Geralt terbangun. Di jalan menuju Vizima, gambaran serupa muncul tanpa perlindungan tidur. Salju, kuda, dan sosok-sosok berzirah kini meninggalkan akibat langsung di sekitar mereka. Para pengawal dapat dijatuhkan, prajurit dapat diseret dari pelana, dan rombongan Geralt benar-benar diburu.
Bagi struktur pembuka The Witcher 3, ancaman yang sebelumnya diperlihatkan melalui mimpi Geralt kini hadir secara fisik di jalan menuju Vizima. Geralt sendiri bukan orang asing bagi Wild Hunt. Pada akhir perjalanan sebelumnya, ingatannya telah kembali cukup jauh untuk mengingat penculikan Yennefer, pengejarannya terhadap para penunggang itu bersama para witcher Viper, serta pertukaran yang membuat dirinya berada dalam tangan Wild Hunt. Yang belum diketahui Geralt sekarang bukan apakah Wild Hunt nyata, melainkan apa tujuan mereka kali ini dan bagaimana mereka dapat menemukan Geralt serta Yennefer begitu cepat.
Pada tahap ini, game juga belum membuka seluruh jawaban mengenai para penunggang tersebut, asal-usul mereka, ataupun alasan lengkap di balik pengejaran ini. Menjelaskannya terlalu jauh akan membawa pengetahuan dari bagian cerita yang belum dicapai Geralt. Yang berubah dalam pembukaan The Witcher 3 adalah cara ancaman itu disajikan: dari gambaran mengganggu dalam mimpi menjadi serangan yang meninggalkan korban nyata di jalan.
Para pengawal Nilfgaard mencoba bertahan, tetapi serangan berlangsung terlalu cepat. Rombongan kecil itu dihancurkan satu demi satu. Baju zirah kekaisaran yang beberapa menit sebelumnya membuat panggilan Emhyr terasa tidak dapat dibantah ternyata tidak menawarkan perlindungan terhadap Wild Hunt. Kekuasaan yang baru saja menaklukkan White Orchard tidak mampu menguasai sesuatu yang datang mengejar dari balik salju.
![]() |
| Rombongan bersenjata yang membawa panggilan kaisar runtuh begitu Wild Hunt muncul di jalan menuju Vizima. |
Geralt dan Yennefer terus memacu kuda sampai mencapai sebuah jembatan. Yennefer kemudian melepaskan sihir yang menghancurkan bentang kayu di belakang mereka. Ledakan tersebut memutus jalur pengejaran dan memberi keduanya kesempatan mencapai keselamatan relatif di balik tembok Vizima. Para pengawal yang berangkat bersama mereka tidak ikut tiba.
Serangan itu memberi bobot baru pada desakan Yennefer agar mereka tidak berlama-lama di White Orchard. Namun kejadian tersebut tidak membuktikan bahwa ia sudah mengetahui lokasi ataupun waktu kemunculan Wild Hunt. Yang terlihat jelas hanyalah bahwa bahaya di luar tembok kota tidak dapat ditahan oleh pengawalan biasa. Yennefer tetap menunda penjelasan. Ketika Geralt mulai bertanya bagaimana Wild Hunt dapat menemukan mereka, ia meminta percakapan itu dilanjutkan keesokan harinya, setelah audiensi.
![]() |
| Yennefer memutus jalur pengejaran, tetapi pengawal Nilfgaard telah jatuh. Hanya ia dan Geralt yang mencapai Vizima. |
Setelah lolos dari kejaran Wild Hunt, Geralt dan Yennefer akhirnya mencapai Vizima. Kota yang dahulu menjadi pusat kekuasaan Temeria kini berada di bawah kendali Nilfgaard, sehingga perjalanan Geralt membawanya dari sebuah desa yang baru kehilangan penguasanya menuju bekas jantung kerajaan yang mengalami nasib serupa. Namun alasan Emhyr memanggilnya, urusan Yennefer dengan kekaisaran, dan bagaimana Wild Hunt dapat menemukan mereka masih belum mendapatkan jawaban.
White Orchard berakhir tanpa kemenangan yang terasa utuh. Royal Griffin telah dibunuh dan Yennefer akhirnya ditemukan, tetapi tavern ditinggalkan dalam darah, jalan Geralt dan Vesemir telah berpisah, dan para pengawal Nilfgaard yang membawa mereka menuju Vizima tidak pernah mencapai tujuan. Hampir setiap penyelesaian justru membuka sesuatu yang lebih besar di belakangnya.
Selama berada di White Orchard, Geralt melihat pendudukan melalui mayat prajurit, ladang yang rusak, rumah yang terbakar, harta yang kehilangan pemilik, dan warga yang berusaha bertahan di bawah lambang kekuasaan baru. Pada persinggahan terakhirnya di tavern, seluruh akibat itu berkumpul dalam satu ruangan. Orang-orang yang selamat saling memandang sebagai pengkhianat, kolaborator, penculik, dan monster sampai tidak ada lagi bahasa yang mampu menghentikan pedang.
Geralt datang ke tavern hanya untuk menemui Vesemir dan meninggalkan White Orchard. Ia keluar setelah memilih melindungi seseorang, meninggalkan para penyerangnya tewas, dan tetap tidak dipahami oleh perempuan yang baru saja ia selamatkan. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang witcher dapat selalu bersikap netral. Pertanyaannya adalah apa arti netralitas ketika berdiri diam juga berarti membiarkan kekerasan menentukan hasilnya.
Perjalanan Geralt di White Orchard telah selesai. Namun jawaban yang terus ditunda Yennefer kini menunggu di Vizima, tempat Geralt harus memenuhi panggilan Emhyr.









